Kapusan Bantal

Betapa gembiranya Mbah Cempluk ketika dikabari bahwa anak perempuannya yang tinggal di JAkarta baru saja melahirkan. Warga Desa Sendang Rejo, Kecamatan BAturetno, Wonogiri itu kemudian dijemput Jon Koplo, menantunya, pergi ke Jakarta untuk menjenguk sang cucu. Tapi namanya juga orang tua, baru beberapa hari tinggal di rumah anaknya sudah minta untuk di antar pulang karena tidak kerasan tinggal di kota besar. Alasannya, Mbah Cempluk kasihan sama kambing-kambing peliharaannya yang tidak kopen. Terpaksa Jon Koplo mengantar lagi mertuanya kembali ke dsa.

Mereka pulang maik kereta api dari Stasiun Senen. Karena seharian capek bekerja, Jon Koplo langsung tertidur. Sementara Mbuh Cemopluk kelihatan sibuk membeli oleh-oleh dari penjual asongan yang hilir mudik di dalam kereta. “Santai! Banta!! Murah, hariya dua ribu!” tiba-tiba seorang awak kereta, sebut saja Tom Gembus, menawarkan bantal. “Mas, bantalnya!” panggil Mbah Cempluk pada Tom Gem­bus. “Saya minta lima, Mas,” kata Mbah Cempluk membuat Tom Gembus kegirangan lantaran bantalnya laku ba­nyak. Mbah Cempluk juga me­rasa senang, hanya dua ribu sudah dapat bantal bagus.

“Lumayan, bisa untuk leyeh-leyeh di rumah nanti,” pikirnya. Akan tetapi tan kocapa, pagi harinya saat kereta mulai memasuki Solo terjadilah eyel-­eyelan hebat antara Mbah Cempluk dengan Tom Gembus, Pasalnya, Tom Gembus datang dan meminta kemba­li bantal-bantalnya, tapi Mbah Cempluk bersikukuh tak mau memberikannya. “Lho, bantalnya kan sudah saya beli. Kemarin sampeyan saya,kasih uang sepuluh ribu ta?!” kata ,Mbah Cempluk sam­bil memeluk erat-erat bantal-­bantalnya.

“Tapi bantal ini hanya dise­wakan, Bu. Bukan dijual,” ka­ta Tom Gembus menerangkan. Koplo yang terbangun men­dengar ribut-ribut itu segera menengahi sambil ngampet ngguyu sekaligus ngampet isin. Dia terangkan bahwa ban­tal-bantal! tersebut memanghanya disewakan, bukan un­tuk dijual-belikan. Cempluk te­tap tidak bisa menerima, bahkan meminta kembali uang­nya. Terpaksa Koplo mengganti uang mertuanya. “Ah, aku diapusi! Wong ban­tal wis dituku kok dijaluk ma­neh!” omel Mbah Cempluk sambil pecuca-pecucu.

Ki­riman Tri Wiyono,
SMK Pan­ca Marga Bhakti,
JI Sido­mukti No 41, Baturetno, Wo­nogiri 57673.

Solopos, 17 Januari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top