Puas… puas…?

Jon Koplo yang bekerja sebagai debt collector salah satu bank ternama di Kota Solo ini jan juengkel-nya minta ampun sama yang nama-nya Tom Gembus, karena Gembus dianggap lalai memenuhi kewajibannya sebagai nasabah untuk nyaur utang. Sudah lebih dari tiga bulan tidak ada bukti pembayaran rekening Tom Gembus. Sebelum mendatangi Gembus yang bekerja di salah satu instansi tersohor itu, Koplo menelepon dulu ke tempat kerja Gembus. “Selamat pagi, saya Jon Koplo, bisa bicara dengan Bapak Tom Gembus?” sapa Koplo. “Oh, maaf Pak. Bapak Tom Gem bus sudah meninggal dunia sekitar tiga bulan yang ¬≠lalu,” begitu jawaban petugas front office, sebut saja Lady Cempluk.

“Wah, akal-akalan iki, padune ora gelem nyaur utang terus sekongkol karo kancane, ” batin Koplo mangkel. “Apakah kata-kata Mbak bisa saya percaya?” tanya Koplo kemudian. “Ya sudah, kalau Bapak tidak percaya, silahkan saja datang ke kantor kami, biar atasan saya, !bu Genduk Nicole yang akan menemui Bapak,” .jawab Cempluk dengan nada mangkel juga. “Baik, kalau begitu saya segera meluncur. ke sana,” Koplo rnenutup pembicaraan. Se ampai di kantor Lady Cempluk, “Selamat siang Mbak, bisa keternu Ibu Genduk Nicole?” sapa Koplo pada resepsionis. “Oh, Anda Mas Jon Koplo yang tadi telepon ya?” tanya Cempluk.

“Langsung saja, itu Bu Nicole sudah menunggu di ruangannya,” sambung Cempluk sambil mempersilahkan Koplo ke ruangan Genduk Nicole, bagian Humas kantor tersebut. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya Nicole basa-basi. “Kedatangan saya kemari sebenarnya ada. urusan dengan Bapak Tom Gembus, nasabah di bank kami yang sudah lama tidak ngangsur tagihan kartu kreditnya,” kata Koplo dikereng-kerengke. “Begini Pak Koplo, Pak Tom Gembus itu sudah sekitar empat bu Ian tidak bekerja lagi di kantor kami,” jelas Nicole. “Lho, tadi stafnya bilang sudah meninggal, Anda bilang sudah tidak bekerja di sini. Yang benar yang mana Bu?” sergah Koplo sajak emosi.

“Benar Pak, Pak Tom Gembus memang sudah tidak bekerja di sini bahkan kantor dan rumahnya pun sudah pindah. Kalau BApak memang ingin minta pertanggung jawabannya sebagai nasabah yang mangkir, ini ada alamatnya kok ,” Katanya Nicole sambil menyodorkan selembar kertas bertuliskan huruf besar-besar “LELAYU”. “lho, kok bisa?” tanya Koplo semrepet. “Pak, kami sudah sering memberitahu petugas di kantor Bapak kalau Pak Tom Gembus bus betul-betul sudah meninggal. Tapi tak satupun yang percaya. Nah, sekarang kalau Pak Koplo belum puas dengan jawaban kami, silahkan membawa bukti ini untuk berkunjung kerumah barunya di Sasonoloyo,” pungkas Genduk Nicole sambil tersenyum menggoda. “Huh, asem tenan, bul Genduk Nicole karo Lady Cempluk ngerjain aku ta. Apa tumon, wong mati kok dikon nututi,” batin Koplo nggondhuk sambil terus berpamitan.

kiriman Dra Dyah Srimarwati,
Jl Ki Hajar Dewantoro No 80,
Kentingan, Jebres, Solo 57126.

Solopos. 8 Februari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top