Kebone liwat…!

Tom Gembus yang asli Demak ini seumur hidup belum pernah melihat yang namanya kirab malam 1 Sura. Maka setelah mempersunting Lady Cempluk dan tinggal di Solo, pada malam 1 Sura kemarin ia dan isterinya sengaja nglegakke untuk menonton prosesi kirab Kerbau Kiai Slamet yang digelar Keraton Surakarta itu. Tapi berhubung sepeda motor Cempluk sedang dipakai bapaknya, mau tidak mau Tom Gembus harus memakai sepeda onthel atau pit kebo milik mertuanya.

Setelah semuanya siap, Gembus segera mbonceng ke Cempluk menuju ke Gladak . lucu juga tampaknya, Tom Gembus dan Lady Cempluk yang sama-sama mempunyai tubuh kimplah-komplah itu berboncengan sepeda tua. Krengkeeet… Krengkeeet… begitulah bunyinya. Nah, kisah lucu ini terjadi ketika mereka sampai di sekitar Gladak atau tepatnya rute yang di lalui oleh kirab kebo nantinya. Lagi asyik-asyiknya Gembus dan Cempluk menikmati keramaian Kata Solo, tiba-tiba mereka mendengar teriakan, keras, “Kebohe liwat…! kebone liwat…!” Orang-orang yang berada di pinggir jalan pun dengan penuh semangat bertepuk tangan sambil bersiul-siul. Tidak ketinggalan canda tawa dengan kata-kata gurauan pun terdengar.

Gembus segera menepikan pit kebo-nya diikuti Cempluk dari belakang dengan sedikit gugup, saking kagetnya mendengar terikan tadi. Mereka berpikir kalau kirap kebonya memang betul-betul mau lewat. Tapi Gembus dan Cempluk di buat heran, tidak ada tanda-tanda kirab akan lewat, malah teriakan, siutan dan garuan orang-orang di sekitar situ tidak berhenti, bahkan semakin ndadi. “Kebone mandheg…! kebone mandheg…!” teriak mereka. Gembus dan Cempluk mulai menyadari kalau teriakan itu ternyata ditujukan pada diri mereka, karena semua pandangan kertuju kepada mereka.

“Oalah Mas, bul sing diarani kebo ki pit-e dhewe, tak kira kirab-e arep liwat tenan,” kata Cempluk sambil tersenyum kecut. Tanpa menunggu waktu lagi, Gembus segera menyusul isterinya untuk segera nyengklak ke sepeda. Dan tan pa tengok kiri kanan, Gembus langsung nggenjot pit on thel yang setangnya mirip sungu kebo itu. “We Iha, kebone mlayu…! kebone mlayu…!” teriak mereka kemudian. Saking malunya, mereka segera nggeblas meninggalkan kerumunan itu. Gembus dan Cempluk benar-benar sudah tidak peduli lagi dengan teriakfn- teriakan orang-orang. Mereka juga tidak peduli apa yang dimaksud orang-orang dengan “kebo” tadi, apakah sepedanya, atau… penumpangnya!


Kiriman Joko Utomo,

Serengan, Solo 57153.

Solopos, 9 februari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top