Wedang duit

KAlau kepingin wedang jahe, wedang kopi, atau wedang teh, kita bisa memesan di warung hik yang bertebaran di seluruh penjuru Kota Solo dan sekitarnya. Tapi kalau yang namanya “Wedang duit” hanya ada di warung hik Jon Koplo di daerah Grogol, Sukoharjo. Nggak percaya? Simak saja kisah berikut. Malam itu udara dingin Maklum, sejak sora hujan gerimis tak kunjung reda. Tom Gembus menthelengi layar kaca sambil ngedhep blanggreng buatan istrinya.

Merasa ada yang kurang, Gembus lantas memanggil anaknya. “Pluk, tulung tukokna wedang jae neng warunge Jon Koplo. Nyoh, iki” dhuwite,” Gem bus menyerahkan uang sepuluh ribuan kepada Cem­pluk. Sang buah hati pun lan­tas menuju ke warung we­dangan tak jauh dari ruma­hya sambil membawa pa­yung. Sampai di warung hik, ternyata banyak orang jajan di sana. TapidasarCempluk, ia _langsung nyrondhol di keru­munan orang-orang sambil meletakkan gelas di atas me­ja. “Mas Koplo, wedang jae siji!” perintahnya.

Jon Koplo tidak menjawab. Maklum, ia lagi sibuk melayani pembeli lain yang sudah antre dari tadi. Cempluk pun menunggu sambil ngobrol dengan pembeli lain yang kebetulan juga temannya. Beberapa saat kemudian pesanan Cempluk sudah jadi. Setelah menerima gelas Cempluk langsung ngeloyor pulang. “Lha jujule endi?.” tanya Gembus sambil menerima gelas dari anaknya. Cempluk kaget dan baru sadar, gara-gara ketungkul ngobrol tadi ia lupa minta uang kembalian.

la lantas balik kewarung. “Mas Koplo, ketoke aku mau du rung sampeyan wenehi jujul ya?” tanya Cempluk sajak komplain. “Jujul piye ta? Wong kowe mbayar wae durung kok njaluk jujul, “jawab Koplo tak kalah ngeyel Cempluk yang merasa yakin sudah memberi uang pun tak mau kalah. Terjadilah perdebatan heboh antara pembeli dan penjual itu. Lebih heboh lagi, di tengah-tengah adu argumen itu Tom Gembus datang ke warung sambil nyangking gelas

“Pio, iki dhuwit sepuluh ewu kok nyemplung neng gelas mbok cor dadi siji karo jae, karepmu piye? Tiwas wis tak sru­put bola-bali!”lapor Gembus. Jon Koplo dan Lady Cem­pluk langsung mak klakep, di­am seribu basa. Mereka me­rasa bersaiah. Cempluk me­rasa ceroboh menaruh uang di dalam gelas, sementara Koplo karena saking sibuk­nya tidak nggagas isi gelas. Orang-orang yang pada ngi­ras di situ pun pada senyum geli melihat kejadian itu. “Sing dodol karo sing tuku pada o’on-e,” celetuk salah seorang pembeli.

Kirim­an Ranu Muda AN,
JI Ku­nir 11/7, Ngasinan RT03/RW IV,
Kwarasan, Grogol, Su­koharjo 57552.

Solopos, 10 Februari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top