Salah gundhul

Di salah satu SMA negeri favorit di Kota Solo ada peraturan khusus yang mengatur tentang urusan per-HP-an. di antaranya harus menonaktifkan HP selama pelajaran berlangsung. Nah, suatu hari pas Pak Jon Koplo mengajar di kelas 3A yang terkenal agak gaduh di sekolah itu, ternyata masih ada suara ringtone yang nyaring bunyinya. “itu Pak, punya Gembus!” celetuk seorang siswa yantg kebetulan duduk pas di belakang Tom Gembus. Gem bus pun tidak bisa meng­tgelak.

Sebagai hukuman atas pelanggaran peraturan tadi, Gembus divonis berdiri di depan kelas selama sepuluh me­nit. Untuk memperingan hukuman, ia memilih berdiri di dekat jendela dengan alasan udaranya semilir. Sesaat setelah Tom Gem­_bus menjalani hukuinan tadi, datanglah beberapa pengurus OSIS masuk ke kelas itu. “Maaf, Pak. Saya minta izin untuk menyampaikan peng­umuman bagi siswa kelas 3A,” tutur salah satu pengurus, sebut saja Lady Gempluk. “Ya, silakan langsung saja,” balas Pak Koplo.

Lady Cempluk segera menunaikan tugasnya. Setelah menyampaikan pengumuman dan memohon diri pada Pak Koplo, Cempluk sempat melirik sajak ngece ke arah Tom Gem bus yang sedang disetrap. Tak mau kalah, Gembus pun balas ngece Cempluk. Sepuluh menitberlalu, waktunya Tom Gembus kembaIi duduk di bangkunya. Pak Koplo kembali memberikan ulasan materi pelajaran kepada siswa. Nah, di sinilah puncak kehebohan terjadi. Udara yang panas membuat Pak Koplo gerah. Beliau lalu mendekati jendela dan berdiri bersandar di sana. Jendela itu cukup tinggi, sehir.igga jika dilihat dari luar maka hanya rambut Pak Koplo yang tampak.

Ketika rombongan Cempluk sedang berjalan melintasi kelas Pak Jon Koplo itulah tidak disangka dan tidak dinyana tiba-tiba saja ada sebuah buku tergulung yang dipukulkan di atas kepala Pak koplo, mak plug! begitu bunyinya, disertai ucapan Cempluk, “Mulane dadi bocah aja mbrengkele!” Cempluk menyangkayang berdiri di balikjendela itu adalah Tom Gembus, teman dekatnya. Seketika itu juga tawa murid sekelas pun meledak, sementara Pak Jon Koplo hanya pringas-pringis menahan sakit. Beliau tahu, Lady Cempluk tidak sengaja melakukan kesalahan itu.


Kiriman Nuryahman Wahyu lrawan SPd, d/a Bp Rayono Pratikto,

Perum Griya Win­ong Asri No 53 RT 10/RW IV Pati 59112.

Solopos, 12 Februari 2007

Tinggalkan Balasan

Back to Top